| Ustadz Bobby: Jangan Ukur Nikmat dengan Materi |
![]() Ustadz muda Bobby Herwibowo mengingatkan agar umat Islam tidak mengukur nikmat dengan materi semata. "Nikmati hidup ini. Sebab, dalam keadaan ketiadaan nikmat pun itu adalah nikmat," kata ustadz jebolan Universitas Cairo, Mesir, dalam tausiyah di Masjid Jabal Rahmah PT Semen Padang (SP), Kamis malam. Hadir dalam acara tausiyah itu, Direktur Produksi PT SP, Munadi Arifin, Direktur Keuangan Epriliyono Budi, Komisaris Basril Djabar, Shofwan Karim (komisaris), serta jajaran pimpinan, staf pimpinan, dan karyawan SP.Dalam tausiyah yang mengambil tema "Bersyukur dan Mencintai" itu Ustadz Bobby menceritakan pengalamannya bertemu dengan orang yang penghasilannya Rp3 miliar per bulan. "Saya kira orangnya sangat gagah. Tapi ketika bertemu, justru sebaliknya. Mukanya sangat kusut, karena penghasilannya Rp3 miliar per bulan tapi hutangnya Rp4 miliar per bulan," cerita Bobby. Ustadz yang menjadi pengisi acara di salah satu stasiun swasta itu juga mengungkapkan kehidupan seorang guru madrasyah yang honornya Rp40 ribu per bulan. "Setiap saya bertemu dengan guru itu, wajahnya selalu bahagia, padahal honornya hanya Rp40 rinu," ungkapnya. Dia juga menceritakan kisah orang sangat kaya namun tak pernah shalat yang jatuh miskin saat diterjang badai krisis moneter 1997. "Jangankan shalat, berwuduk saja orang tersebut tidak bisa. Tapi, tatkala jatuh miskin Allah memberikan hadiah kepada dia, dengan memperdengarkan suara adzan di waktu subuh. Orang tersebut lalu pergi ke masjid dan melaksanakan shalat berjamaah, dengan menirukan semua gerakan imam. Di saat itu dia menangis, merasakan begitu besarnya nikmat Allah kepada dirinya," ungkap Bobby. Kehidupan orang tersebut, lanjut Bobby, berangsur-angsur bangkit setelah dia menjalani hidup dengan penuh syukur dan taat beribadah kepada Allah Swt. Dengan berbagai contoh nyata yang langsung ditemuinya itu, Ustadz Bobby mengingatkan umat Islam untuk senantiasa bersyukur kepada Allah Swt, dalam keadaan apapun. Direktur Produksi PT SP, Munadi Arifin dalam sambutannya berharap dengan digelarnya tausiyah diharapkan bisa memberikan keseimbangan dalam aspek kehidupan rohani dan lahiriah karyawan. "Tausiyah ini juga bertepatan dengan penyambutan bulan suci Ramadhan yang sudah di ambang pintu," ujarnya. Merujuk kepada tema tausiyah, kata dia, bersyukur merupakan bentuk tindakan yang mesti dilakukan umat, baik ketika menghadapi cobaan, maupun dalam keadaan mendapat nikmat. "Kita juga merasa bersyukur dengan kinerja perusahaan yang semakin baik," katanya. Tausiyah itu merupakan rangkaian dari peringatan HUT ke-52 pengambilalihan PT Semen Padang dari tangan belanda (5 Juli 1958-5 Juli 2010). Berbagai kegiatan digelar dalam rangkat HUT ke-52 tersebut, seperti khitanan massal gratis, donor darah, Pekan Olahraga dan Seni (PORSENI), bazaar, dan lain sebagainya.
|
| < Prev | Next > |
|---|



